Hidup Sebagai "Civitas Academika", Hanya Punya Dua Pilihan: Apatis Atau Idealis Untuk Indonesia

Hidup Sebagai "Civitas Academika", Hanya Punya Dua Pilihan:  Apatis Atau Idealis Untuk Indonesia

SELAMAT DATANG DI HOME PAGE BUJANG POLITIK BERKATA


BIODATAKU

  • Nama : EKO INDRAYADI
  • TTL : Baturaja,28 Maret 1991
  • Alamat : Jalan Pesanggrahan, Ciputat-Jaksel
  • No HP : 0856692432xxx

Sendiri Kita Kaji, Berdua Kita Diskusi, Bertiga Kita Aksi

“Pemerintah, Mahasiswa, Dan Kesehatan Masyarakat”


“Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat!”. Begitulah kata-kata sebuah slogan yang tidak asing lagi di telinga kita para generasi muda. Kesehatan merupakan sebuah keabsolutan yang menjadi harapan dan tujuan setiap manusia. Bagaimana pun caranya, pasti setiap manusia menginginkan dirinya sehat. Sehat adalah harta yang tak ternilai harganya, sebab dengan kesehatanlah kita semua mampu beraktivitas dengan lancar tanpa hambatan. Sudah sepatutnya jika kita sebagai mahluk yang berpikir untuk senantiasa bersyukur terhadap karunia kesehatan yang diberikan oleh Allah SWT.


Hal inilah yang menjadi sebuah landasan seminar kesehatan pada hari Selasa, 06 April 2010 di Aula Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Seminar yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DRPH dan dimoderatori oleh Rektor UIN Jakarta, Prof Dr. Komarudin Hidayat, dan dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIP) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.


Seminar yang senada dengan peringatan Hari Kesehatan Sedunia (HKS) ke-62 yang jatuh pada hari Rabu, 7 April 2010. Mengangkat tema kontemporer dan krusial mengenai “Kupas Tuntas Upaya Menciptakan Generasi Yang Sehat Dan Islami”. Di dalam seminar ini, Ibu Endang banyak berbicara mengenai berbagai upaya yang akan ditempuh oleh pemerintah Indonesia dalam menciptakan Indonesia sehat ke depan.


“Pemerintah memiliki visi dan misi yang harus ditempuh di dalam memanifestasikan kesehatan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Diantaranya, meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan pemberdayaan di dalam masyarakat untuk senantiasa membiasakan diri hidup sehat, serta mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk ikut serta dan berpartisipasi di dalam mewujudkan Indonesia sehat”, tutur beliau.


Beliau juga mensosialisasikan mengenai beberapa program dari pemerintah untuk senantiasa pro terhadap rakyat di dalam bidang kesehatan. Diantaranya, revitalisasi puskesmas, reformasi birokrasi yang bebas dari KKN, pemberian bantuan dalam bentuk subsidi obat-obatan, bidan siaga, desa siaga, posyandu balita dan lansia, serta pemberian Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) kepada puskesmas-puskesmas yang berada di daerah dan wilayah terpencil.


Senada dengan hal tersebut, beliau juga menambahkan adanya beberapa kendala yang terjadi dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Pertama, adanya disparitas sosial yang menyangkut tingkat pendidikan masyarakat di dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Tingkat pendidikan merupakan faktor utama yang mendukung adanya upaya kesadaran di dalam masyarakat untuk hidup sehat.


Kedua, kurangnya jumlah tenaga kesehatan, khususnya di daerah-daerah terpencil. Seperti tenaga dokter spesialis, ahli farmasi, bidan, dan perawat. Beliau sangat menyayangkan akan adanya sentralisasi kesehatan yang hanya terpusat di kota-kota besar, khususnya di Pulau Jawa. Selain itu, beliau juga menghimbau kepada para calon-calon tenaga kesehatan agar mau dan ikhlas untuk menyumbangkan kemampuaannya di daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia.


Ketiga, masih minimnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan fasilitas kesehatan yang ada di daerah. Menurut beliau, masih banyak daerah-daerah tingkat II di seluruh Indonesia yang belum memiliki rumah sakit sendiri. Beliau berharap kepada pemerintah daerah setempat untuk cepat tanggap di dalam menyelesaikan permasalahan ini.


Keempat, kurangnya kepercayaan dari masyarakat terhadap tenaga kesehatan Indonesia. beliau menyatakan bahwa masih banyaknya orang Indonesia yang berobat ke luar negeri. Padahal dokter-dokter yang berada di luar negeri adalah dokter Indonesia. Harapan beliau ke depan, agar kedepan, masyarakat dapat mengubah sugesti tersebut dan mau mempercayakan pengobatan kepada rumah sakit dan tenaga kesehatan yang ada di Indonesia.


Terlepas dari semua permasalahan tersebut, beliau juga menghimbau serta berharap adanya keikutsertaan rekan-rekan “Civitas Akademika” sebagai duta kesehatan di dalam masyarakat. Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial, diharapkan mampu untuk ambil bagian di dalam upaya penciptaan “Green City”, dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan sosialisasi mengenai pentingnya upaya hidup sehat di dalam masyarakat. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan mampu untuk ikut berpartisipasi dalam upaya “screening” tehadap penyakit-penyakit menular di dalam masyarakat. (**)



B-Pol

(Pemerhati Masalah Sosial)

0 komentar:

Posting Komentar

Masa & Air Mata

(Ciputat,18 November 2009)

Kulalui masa . . .

Mengepung keinginan dalam pelita

Menyesak di dalam rintihan air mata

Melambai bersama angin senja

Bergerak perlahan, bebas dan bergerak

Berubah-ubah bersama sunyi

Sembilu perih menggores hati

Mendayu-dayu menjadi satu

Relakan aku membuang waktu

Kubuang sauh,

kemudi diri yang mulai lalu

Berlari setapak demi setapak hadapi hidup

Dari masa, menjadi rasa.

Rasa air mata.

OPTIMIS

(Ciputat, 4 November 2009)

Diantara sunyi,

Meniti bait-bait nada tiada henti

Berjalan jajaki setiap misteri

Dalam sanubari

Terbenam kelam

Pagi tak kembali

Rembulan berlari,

Kukejar mentari

Semua adalah pragmatis tanpa idealis

Dramatis tanpa argumentasi

Tercoret mesra pada tembok-tembok tinggi

Kukejar, kejar dan tak kan pernah henti

Kulangkah, dan pasti terlewati

Ya. . .Ya . . .Ya

Ya

Aku tulis sebuah testimoni

Antara hati nurani, konsensus-sugesti.

Ketika parade kedilan negeri.

Mati suri oleh suatu institusi.

Lembaga-lembaga rakyat.

Berkarat dan berbau lumpur akherat.

Membusuk!, berulat.

Kemanakah lagi kami harus mencari?

Keadilan!

Kesejahteraan!

Ataukah semua telah diobral?

Dimarginalkan oleh royalti dan kepentingan.

Aku bertanya,

Apakah nasib baik sudah tiada?

Diatur dan dikendalikan dengan benang-benang merah.

Terikat erat tak mampu dilepaskan.

Atau,

Nasib baik bisa diperdagangkan?

Menjadi kepingan keberuntungan,

Menggunung tersimpan,

Menggunung dipestakan.

Namun hambar.

Ya . . . Ya

Semua telah dipintal jadi satu.

Dalam jaring laba-laba setiap lembaga.

Indah, indah dan mencengangkan.

Tapi,

Mataku, mataku buta tak mampu melihat.

Sebuah bayang-bayang kabur mengkerat dan melekat erat.

Ya . . .Ya . . .Ya

Biarkan saja,

Aku

buta,

Tuli,

bisu.

Semua kau yang atur.

Untuk maju atau mundur.

Asal semua teratur.

Bagianmu bisa kuatur.

Atur, atur, atur,

Yang penting akur

Ciputat, 9 Desember 2009